Selasa, 10 Desember 2013

Jam Weker, Jam Meja Legendaris



Saat ini jam meja adalah sebuah jam yang sudah lekat dengan kehidupan kita. Walaupun belum tentu selalu memiliki jam meja dalam rumah, namun minimal kita pasti tahu apa itu jam meja. Dan jika kita membahas mengenai jam meja, maka kita mungkin akan terngiang pada kata ini: Jam Beker/Weker.

Iya, jam beker/weker adalah jam yang sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat. Jam weker/beker adalah jam yang unik dan membuat kita selalu ingat akan kehadirannya. Belum lagi kalau masa kecil kita dihabiskan melawan berisinya bunyi jam weker/beker yang selalu mengganggu tidur kita, pastilah ingatan tentang jam weker akan semakin kuat. Karena itu, tidak berlebihan rasanya jika kita mengatakan bahwa jam weker adalah jam meja legendaris.

Sebenarnya, apa perbedaan antara jam meja dan jam weker? Bukankah mereka adalah satu kesatuan? Ternyata tidak. Jam Weker adalah jam di kamar tidur/meja yang dapat mengeluarkan bunyi berisik untuk membangunkan seseorang pada waktu yang ditentukan. Sedangkan jam meja, pada dasarnya, tidak harus selalu memiliki alarm. Jadi, semua jam weker pasti jam meja, dan jam meja, belum tentu jam weker. Kurang lebih, seperti itulah bedanya antara jam weker dan jam meja.

Alarm keras dan memekakkan telinga ini bisa dibilang adalah ciri khas dari jam weker. Dengan suara yang lantang dan sangat berisik, siapapun akan bangun dari tidurnya, setidaknya untuk beberapa menit. Dan biasanya, di jam beker ini ada tombol kecil di tengah yang dapat ditekan untuk mematikan suaranya yang nyaring.

Jam weker pun sekarang sudah tidak hanya berbentuk mekanik saja, melainkan juga ada yang digital. Tapi tentu, saat kita membicarakan jam weker, kita pasti ingat jam mekanik dengan bentuk yang khas, bukan?

Jam weker pertama kali ditemukan oleh Levi Hutchin pada tahun 1787. Penemuannya saat tu tergolong fenomenal, mengingat betapa sulitnya merakit jam pada waktu itu. Membuat jam di tahun pertengahan adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang dengan IQ super tinggi dan ketelatenan yang luar biasa. Mungkin jika sekarang, pekerjaan membuat jam itu seperti pekerjaan orang membuat code software yang rumit dan perlu perhatian khusus. Kurang lebih seperti itu.

Teknologi yang digunakan agar jam weker mekanik itu berbunyi adalah sebuah benda pegas yang akan bergerak saat jarum jam sudah sama dengan jarum ‘khusus alarm’ yang di setting di jam itu. Pegas itu akan memicu tenaga untuk memukul lonceng yang ada di jam beker. Akibatnya? Suara yang keras akan muncul dan sangat mengganggu telinga kita. Menyebalkan memang, tapi itulah fungsinya, agar kita bangun.

Namun, perkembangan teknologi yang ada sekarang sudah membuat jam weker mulai ditinggalkan kebutuhannya. Berbagai alat lain sudah bisa menutupi fungsi dari weker itu sendiri, seperti telepon genggam yang juga bisa dijadikan alarm misalnya. Hal ini tak pelak membuat jam weker semakin lama semakin terkikis. Mungkin sebentar lagi jam weker akan berubah menjadi alat sejarah seperti piringan hitam.

Namun tidak semua jam weker bernasib suram. Anaknya, jam meja, kini tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Alasannya mudah saja, jam meja memberikan sentuhan personal kepada pemiliknya, sehingga pemiliknya pun akan merasa ditemani oleh jam meja saat dia melakukan tugasnya di atas meja. 

Jam meja juga menjadi sarana promosi bagi perusahaan. Jam meja promosi, menjelma menjadi salah satu kebutuhan penting untuk perusahaan dalam mempromosikan brandnya kepada masyarakat.

Karena itulah, sekarang ini, kita bisa mengatakan kalau jam weker telah selesai masanya, dan jam meja sebagai anaknya, mencoba bertahan di tengah modernisasi yang semakin kuat.